Sistem Navigasi Karya Anak Bangsa yang Mendunia

Sebanyak 255 bandara dari total 295 bandara di Indonesia saat ini tidak mempunyai sistem radar. Untuk kepentingan lepas landas dan pendaratan pesawat, bandara-bandara itu masih mengandalkan komunikasi gelombang radio. Hal ini tentu saja menciptakan lubang pertanyaan yang sangat besar, sudahkah terjamin keselamatan penerbangan di negara kita?

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) akhirnya berhasil menciptakan alat navigasi penerbangan secanggih buatan Prancis yang mampu menangkap informasi dari pesawat sipil. Alat itu diberi nama Automatic Dependent Surveillance-Broadcast (ADS-B). Sistem ini merupakan sistem komunikasi penerbangan antara pesawat dengan menara navigasi untuk mengatur lalu lintas pesawat di sekitar bandara.

Riset Sejak 2007

Jika dibandingkan dengan sistem radar yang didatangkan dari luar negeri, ADS-B ini lebih murah sebab pengembangan teknologinya dilakukan lewat ujicoba di Jakarta Air Traffic Service Center (JATSC). Sebagai bentuk legalisasi, teknologi ini telah mendapatkan sertifikasi dari Direktorat Jenderal Perhubungan Udara. Di Indonesia sendiri sistem ADS-B diproduksi oleh PT INTI.

“Ini merupakan hasil riset yang inovatif. Kesiapan teknologinya sudah ada di level IX. Artinya, sudah sejajar dengan alat serupa buatan Prancis atau Spanyol yang selama ini kita pakai di beberapa bandara. Dua negara itu mengekspor radamya hampir ke semua negara” ujar Menristekdikti Mohammad Nasir, saat mengunjungi JATSC Tangerang beberapa waktu lalu.

Pada awalnya, penelitian ADS-B ini sudah dilakukan BPPT sejak tahun 2007 dengan alokasi dana sebesar Rp 15 miliar. Adapun prototipe ADS-B selesai dibuat secara lengkap pada tahun 2014. Kegunaan lain dari alat ini yaitu dapat mendeteksi pergerakan benda di darat karena radarnya bisa menangkap sinyal dalam radius 200 mil atau jarak lebih dari 250Nm pada ketinggian di atas 29.000 kaki.

Dalam kesempatan tersebut, Nasir juga menjelaskan upaya-upaya pemerintah agar ADS-B dapat bersaing dengan produk impor. Salah satunya yaitu proteksi harga, menjamin harga ADS-B lebih murah daripada sistem radar yang beredar di pasaran. Perang harga ini dianggap penting sebagai strategi penjualan saat sudah diproduksi massal nanti.

“Saya tidak mau hasil inovasi ini punya deviasi yang cukup tinggi dengan produk negara lain. ADS-B ini bisa juga dipakai untuk mendeteksi pergerakan benda di darat, menghindarkan tabrakan antarpesawat,” tutur pria kelahiran Ngawi 59 tahun lalu ini.

Senada dengan Nasir, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi sangat senang dengan terobosan BPPT ini. Ia berharap ADS-B bisa diterapkan di seluruh bandara di Indonesia karena selama ini sistem radarnya masih diimpor dari luar negeri.

“Ini (ADS-B) adalah hasil karya anak bangsa, kita bangga dan mengapresiasi BPPT yang sudah bisa mengembangkan alat ADS-B yaitu alat penginderaan udara yang selama ini masih impor”, ungkap mantan Direktur Utama Angkasa Pura II itu.

“Kemampuannya sama, praktis tak ada kesalahan selama dua tahun melakukan uji coba di Bandung. Artinya, ADS-B bisa dipergunakan di semua bandara. Kunci keberhasilan adalah apakah bisa dibuat dengan harga murah?” lanjutnya.

Keunggulan ADS-B

Sistem ADS-B ini dapat menampilkan informasi jadwal keberangkatan, nomor penerbangan, rute penerbangan, posisi pesawat lengkap, ketinggian pesawat, tipe pesawat dan nomor registrasi, tujuan penerbangan, dan sejumlah informasi penting lainnya. Selain itu jumlah pesawat yang bisa dipantau  mencapai 500 pesawat sehingga meningkatkan volume penerbangan dan memperkecil terjadinya risiko separasi antarpesawat.

Dalam hal pengoperasiannya lebih sederhana sehingga menekan biaya investasi, instalasi, operasi dan pemeliharaan. Pemasangan alat ini juga memungkinkan ke pelosok daerah terpencil yang masih mengandalkan pasokan listrik tenaga surya karena kebutuhan energi listriknya kecil.

Adapun dukungan purnajual lebih efektif dan efisien karena dilakukan sepenuhnya oleh tenaga ahli dalam negeri sehingga meningkatkan jam operasi dan keandalan.

Telah Diterapkan di Beberapa Bandara

Indonesia sudah mempunyai 31 ground station ADS-B yang dapat mencakup seluruh ruang udara Indonesia untuk phase en-route, meliputi 10 ground station terintegrasi dengan JATSC dan 21 ground station terintegrasi dengan Makassar Air Traffic Service Center (MATSC). Sayangnya, semua peralatan ADS-B yang terpasang masih didatangkan dari luar negeri.

PT INTI sudah membuat empat unit produk ADS-B, diantaranya dipasang di Menara Pusat Teknologi Elektronika, Puspiptek Serpong, dan Curug. Sejak tahun 2018, alat ini sudah dipasang di beberapa bandara Papua secara bertahap. Diantaranya Bandara Wamena, Sentani, Oksibil, Dekai, Senggeh, Borme dan Elelim.

Menurut Direktur Pusat Teknologi Elektronika (PTE-BPPT), Yudi Purwantoro, tipe ADS-B yang akan digunakan ialah ADS-B Ground Station. Salah satu keunggulannya yaitu data dapat dilihat secara lokal di masing-masing Bandara, melalui Situational Display Monitor yang kemudian dikirim secara bersamaan ke Air Traffic Control System milik Airnav Indonesia.

“Dengan Teknologi ADS-B sebagai teknologi surveillance nantinya akan lebih banyak lagi area penerbangan di bawah Flight Level 24.000 feet yang belum ter-coversituational awareness display akan bisa di-cover dengan lebih baik. Jadi petugas ATC di Papua dapat memonitor pesawat secara real time, bukan dengan menggambar titik-titik lagi,” terang pria pemegang serifikasi CISA ini.

ADS-B dengan kode produk AGS-216 sudah mendapatkan sertifikasi dari Kementerian Perhubungan berdasarkan Peraturan Direktur Jenderal Perhubungan Udara. Acuannya adalah Standar Internasional (Amerika dan Eropa) untuk ADS-B pada awal tahun 2017 dan hasilnya AGS-216 layak digunakan untuk operasional di bandara.

AGS-216 kini dapat disejajarkan dengan perangkat yang diproduksi industri negara maju seperti buatan Thales Navigation. Langkah besar ini secara tidak langsung telah mendukung program pemerintah dalam hal efisiensi nasional dan peningkatan kemandirian serta daya saing bangsa. Yaitu melalui inovasi teknologi dan penggunaan produk dalam negeri untuk meningkatkan Tingkat Kandungan Dalam Negeri.

Rosyid Bagus Ginanjar Habibi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Sirkuit Mandalika, Gerbang Pariwisata Indonesia Timur

Tue Aug 27 , 2019
Bulan Madu Terindah di Lombok Setahun lalu saya dan istri sepakat untuk berbulan madu ke Pulau Lombok setelah melangsungkan pernikahan. Kami memilih pulau di timur Bali ini untuk liburan, dengan alasan pemandangan alamnya yang masih alami dan banyak tempat wisata menarik untuk dikunjungi berdua. Selain itu faktor geografis, penerbangan kami […]
error: Content is protected !!
FISCAL.ID