Lansia Berdaya: Menghidupkan Kembali Kejayaan Batik Kuno Mataram

Lansia Seang Membatik (Dok. Pribadi)

Mbah Siti dengan tangkas memainkan cantingnya di atas kain putih. Ia meniup malam agar batik tulisnya lekas kering. Batik Gajahmada yang ia lukis ini unik karena warisan leluhur sejak zaman kesultanan mataram islam. Tampak pula ibu-ibu sepuh sebayanya sedang asyik membatik di selasar ruangan.

Motif batik legenda Perdikan Majan itu mempunyai 20 macam dan biasa dipakai untuk prosesi adat. Cerita tentang Batik Majan asli Tulungagung Jawa Timur ini sudah eksis dan melalang buana hingga ke seluruh nusantara. Akhir tahun 2022, Batik Majan menjadi pilihan koleksi busana adat parade Barisan Raja/Sultan Nusantara (Baranusa) di Palembang.

Bobby Satriyo (34) adalah pemuda desa yang tergerak untuk membangkitkan Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) batik di Tulungagung. Tahun 2013 ia mulai serius dengan usaha membatik ini karena warisan dari leluhur. Uniknya, Bobby melibatkan para tetangga yang sudah sepuh terutama ibu-ibu untuk ikut menggeluti usaha batik.

Bobby melihat potensi batik kuno warisan Mataram Islam sebagai budaya yang harus dilestarikan agar tidak punah. Hal tersebut yang menjadi alasan Bobby mempekerjakan lansia agar ilmu membatik kuno tidak mati dan ada yang mewarisi budayanya.

Beberapa omongan miring tentang buat apa laki-laki jualan batik sempat ia dengar tapi diabaikannya. “Sebagai keturunan pembatik, saya tergerak untuk melanjutkan warisan kuno ini dengan sedikit sentuhan modern,” ujar Bobby saat ditemui di rumahnya di Tulungagung, Jawa Timur.

Dengan bermodal bismillah dan pengalaman membatik orang tuanya, Bobby nekat untuk menggeluti bisnis ini meski harus belajar marketing. “Ini bukan tentang cari untung tapi lebih ke pemberdayaan lansia yang mencintai warisan batik kuno,” kata peraih penghargaan apresiasi Gubernur Jawa Timur Tahun 2019 itu.

Melihat Potensi yang Lebih Besar

Ikut Bazar Batik (Dok. Bobby Satriyo)

Usaha batik yang dirilis Bobby bernama Liris Manis Majan. Ia tak mengklaim diri sebagai pewaris batik kuno Gajahmada sebab motif batiknya telah mengalami pengembangan sesuai corak kekinian. Namun ia tak mengelak jika batik usahanya ini untuk menjaga warisan budaya batik kuno era Kesultanan Mataram Islam. “Batik Majan ini warisan leluhur saya turun temurun. Majan ini dulunya kan bagian dari kekuasaan Sunan Pakubuwono II,” kata Bobby.

Sejak memulai bisnis batik, Bobby ingin memberdayakan lansia di sekitar desa agar bisa produktif dan menghasilkan uang. Tujuan lainnya, tentu saja hanya lansia di Desa Majan yang tahu warisan ilmu membatik Gajahmada yang diakui keindahannya itu.

Bobby bertindak sebagai manajer sekaligus marketing batik yang telah dihasilkan oleh ibu-ibu lansia Majan. Proses membatik yang sederhana mulai dari hingga melukis corak hingga pengeringan ia pasrahkan ke para lansia yang sudah terbiasa melakukannya. 

“Sebelum dihantam pandemi saya bisa melibatkan 5 lansia dan membantu ekonomi keluarga mereka,” ujarnya.

Rajin Ikut Bazar

Penghargaan Gubernur Jatim (Dok. Bobby Satriyo)

Jika dulu batik yang diproduksi pembatik Majan hanya dijual di pasar, Bobby rajin mencari event-event lokal seperti bazar. Bahkan ia aktif mencari informasi bazar hingga ke Surabaya dan Jakarta untuk menjangkau pecinta batik dari kalangan pejabat di kementerian dan pengusaha nasional. Usahanya ini membuahkan hasil sebab Batik Majan bisa menemukan pelanggan yang cocok dari sisi harga.

Para pejabat yang membeli batik di bazar merasa puas dengan produk Batik Majan karena punya corak yang unik dan berbeda dari batik biasanya. “Pecinta batik pasti tahu mana batik lukis dan mana batik cap menggunakan alat. Batik Majan ini semuanya dilukis tangan oleh lansia hingga berminggu-minggu lamanya. Wajar kalau harganya mahal dan berbeda dari batik printing atau cap yang instan,” ujar Bobby.

Bobby selalu menjaga kualitas batiknya dengan kejujuran, apakah Batik Majan itu dilukis atau di cap. Ia tak mau membohongi pelanggan setia dengan menjual batik cap dengan harga mahal. Baginya, pelanggan adalah raja yang harus dirawat kepercayaannya.

Bobby berani menjamin keaslian batik kuno khas Mataram Islam yang dilukis manual oleh lansia. Ia mengatakan, Batik Majan dikerjakan dengan proses tradisional bahkan wadah untuk membatik masih menggunakan kaleng bekas yang dipanasi dengan arang kayu.

“Kalau kualitas berani diadu dengan batik motif lain. Saya pilihkan kain yang nyaman dipakai dan tidak mudah luntur kalau dicuci,”

Omset dari usaha batik ini diakui Bobby bisa menghasilkan Rp 15 juta per bulan. Batik Liris Manis Majan menghasilkan tiga macam batik diantaranya: batik tulis berkualitas tinggi seharga Rp 2-4 juta, batik tulis dengan grade sedang seharga Rp 1-2 juta, dan batik cap dengan harga murah meriah sesuai permintaan pasar. Ia juga sering memberikan bonus lebih ke lansia pembatiknya sebab kondisi ekonominya.

“Ya kewajiban sosial kita untuk membantu lansia yang mengandalkan batik sebagai sumber pencaharian,”

Kualitas Batik Majan ini sudah diakui secara nasional bahkan beberapa kali dipakai untuk pameran adat dan budaya kesenian. “Pokoknya kalau ada event nasional yang melibatkan Raja/Sultan se-Indonesia, Batik Majan selalu dipakai,” ujar Bobby.

Dipermudah Jasa Ekspedisi JNE

Liputan Koran Lokal (Dok. Pribadi)

Bisnis Batik Majan yang dipunyai Bobby sempat mengalami kemunduran di awal-awal pandemi covid-19 sebab kebijakan pembatasan pemberlakuan kegiatan masyarakat (PPKM) dari pemerintah. Event bazar yang menjadi andalan Bobby untuk memasarkan produknya ditiadakan hingga ada pemberitahuan lanjutan untuk mengurangi penyebaran penyakit.

Dengan adanya PPKM itu, Bobby tak bisa lagi mengikuti bazar sehingga omset batiknya menurun drastis hingga mencapai Rp 6 juta per bulan. Bahkan ia terpaksa kehilangan satu karyawan lansia karena meninggal. “Penghasilan kami sempat merosot tajam saat pandemi,” kenangnya.

Bobby memutar otak agar bisnis batiknya tetap lancar dan bisa menghidupi para lansia yang mengandalkan usaha membatiknya. Ia beralih ke bazar online dengan memanfaatkan status whatsapp untuk jualan. Jalan ini harus ditempuhnya agar para pelanggan setia bisa melihat perkembangan bisnis batik kuno ini. 

“Para lansia ini adalah ujung tombak usaha batik saya. Sampai ke ujung dunia pun akan saya usahakan untuk jualan jika memungkinkan,” ujar Bobby.

Meski produk yang terjual belum sebanyak sebelum ada pandemi covid-19, Bobby coba menerapkan Mix Marketing Strategy yang penelitian Mahasiswa Praktik dari Universitas Negeri Malang beberapa waktu lalu. Perubahan pola pembeli yang beralih dari offline ke online mendorong Booby untuk memasarkan batik di e-commerce seperti Shopee dan Tokopedia. Beruntungnya, mahasiswa itu mau membantu Bobby membuatkan akun hingga menjelaskan cara penjualannya hingga bagaimana pengirimannya. Pemasaran online ini membuat Batik Majan dipesan oleh banyak pembeli dari berbagai wilayah di Indonesia antara lain Sumatera Selatan, Jakarta, dan Kalimantan.

Untuk pengiriman produknya, Bobby sangat terbantu dan dipermudah dengan jasa adanya ekspedisi JNE. JNE mempunyai program jemput barang kiriman ke rumah untuk UMKM  sehingga memudahkan Bobby dalam pengiriman tanpa terhalang PPKM. Bahkan dengan adanya program JNE ini Bobby bisa menghemat pengeluaran okngkos transportasi.

“Lumayan membantu sih apalagi pas PPKM. Para mahasiswa itu juga yang mengajari hingga pengiriman JNE sehingga ada selisih yang berkurang dari ongkos transport,”

“Alhamdulilah tidak ada masalah dengan waktu pengiriman selama ini. Kurir dan karyawan JNE sangat gercep kalau ada pertanyaan dan responnya sangat baik. Saya belum ada rencana untuk ganti jasa ekspedisi selain JNE,” tambahnya.

Bobby sempat bercita-cita untuk membuat butik atau gallery batik yang rapi agar bisa mengembangkan industry kreatif. Selama ini batik-batiknya masih ditempatkan di lemari pojokan rumahnya. “Kalau ada butik kan rasanya keren ya. Saya bisa mempekerjakan banyak lansia digabungkan dengan anak-anak muda yang mau belajar membatik atau jaga toko,“ katanya.

Program JNE Mendukung UMKM

Gerai UMKM JNE (Dok. Kontan)

Para pelaku UMKM sangat terdampak adanya pandemi COVID-19 terutama dari penghasilan yang menurun. Survei dari Kementerian BUMN menunjukkan bahwa sebanyak 70% UMKM offline (non online) mengalami penurunan omset mencapai lebih dari 50% sejak pandemi. Begitu juga dengan UMKM online meski terdampak pandemi dan mengalami penurunan omset namun hanya 6,6%.

Beberapa waktu lalu saat pandemi, JNE cabang Kediri mengadakan gelaran webinar untuk mendukung sektor UMKM yang ingin bersaing di dunia digital. Harapannya, webinar online ini dapat dimanfaatkan UMKM di Indonesia, khususnya di Tulungagung, Kediri, Blitar, dan Trenggalek dapat mengembangkan kemampuan bersaing di dunia digital, baik dalam skala nasional dan global.

Topan Andi Krisna selaku Kepala Cabang JNE Kediri menegaskan pentingnya UMKM untuk beradaptasi dan berinovasi. Di tengah teknologi digital yang semakin berkembang, usaha digitalisasi perlu dilakukan agar peluang terus bermunculan.

“Program-program kita di JNE Kediri sendiri (dan sekitarnya) banyak diperuntukkan UMKM. Saya rasa UMKM ini perlu dukungan yang sesuai dengan kebutuhan mereka. UMKM butuh distribusi dan juga promosi baik offline maupun online,” ujar Topan dalam acara Gollaborasi Bisnis Online yang digelar secara virtual via Zoom beberapa waktu lalu.

Topan menyatakan JNE Kediri dan sekitarnya telah menyediakan berbagai layanan strategis untuk membantu UMKM. Contohnya, adanya layanan gratis pick up tanpa minimal pengiriman, layanan COD yang bisa diakses di seluruh layanan, dan layanan On Demand yaitu layanan jemput paket dan langsung kirim ke penerima yang akan dihadirkan di seluruh jaringan JNE Kediri dan sekitarnya. Ia menyebutnya dengan kolaborasi.

Tantangan Era Digitalisasi

Ikut Fashion Batik Fair (Dok. Bobby Satriyo)

Transformasi UMKM di era digital memberikan peluang yang besar untuk pertumbuhan dan keberlanjutan bisnis. Program JNE menyasar UMKM ini sejalan dengan harapan Presiden Jokowi yang menargetkan 30 juta UMKM akan go digital pada tahun 2024.

Jumlah UMKM digital di tahun 2020 hanya mencapai 8 juta. Jumlah ini bertambah signifikan pada awal 2022 hingga mencapai 20,76 juta UMKM yang masuk ekosistem digital, berdasar survei Kementerian Koperasi dan UKM.

Tantangan UMKM di era digitalisasi ini juga tidak sedikit. Setidaknya ada 6 tantangan yang dihadapi UMKM diantaranya, keterbatasan akses dan infrastruktur, kebutuhan pendidikan dan keterampilan, biaya dan ketersediaan sumber daya, keamanan dan privasi, perubahan budaya dan mindset, serta persaingan dengan bisnis online besar.

Untuk itu perlu upaya kolaboratif antara pemerintah, swasta, dan lembaga pendukung UMKM lainnya untuk memberikan atensi lebih terhadap sumber daya yang diperlukan.

#JNE32tahun #JNEMajuIndonesia #JNEcontentcompetition2023 #ConnectingHappiness

Rosyid Bagus Ginanjar Habibi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

error: Content is protected !!
FISCAL.ID