
Lumajang, Sabtu sore tanggal 4 Desember 2021 menjadi hari yang tak akan dilupakan oleh warga Desa Sumberwuluh Lumajang Jawa Timur. Desa yang terletak di lereng Gunung Semeru ini menjadi saksi bisu betapa dahsyatnya letusan Semeru yang memporakporandakan dua dusun, Curah Kobokan dan Kampung Renteng.
Di Kampung Renteng yang terendam lumpur hingga atap rumah, Tim Relawan Al Iman melihat bantuan pakaian hanya menumpuk di pos ronda dan teras rumah warga. Artinya, yang warga butuhkan lebih dari sekedar baju yakni cara menghilangkan trauma mendalam setelah puluhan orang tewas dan tidak ditemukan jenazahnya.
Trauma Healing yang dilakukan Tim Relawan disebar dalam beberapa titik posko pengungsi diantaranya; Kajang Kosong, Kamar Kajang, Sumber Langsep. Kajar Kuning, Jobong, dan Jugosari. Di dekat posko Jugosari letaknya di pinggir jalur sungai yang dilewati lahar dingin. Rencananya, tanggul yang ada akan ditinggikan lagi untuk menahan debit volume air agar tidak meluber ke pemukiman warga.

Trauma healing untuk pengungsi Letusan Semeru ini sederhana agar mereka tertawa sejenak di tengah musibah yang dihadapi, Tim Relawan bercerita bergantian menggunakan berbagai media seperti boneka tangan, muppet, permainan, tebak-tebakan berhadiah, dan pembagian peralatan sekolah. Rata-rata pengungsi yang ikut adalah anak-anak usia sekolah dengan ibu-ibu yang membawa balita. Berkardus popok bayi sudah disiapkan untuk ibu-ibu yang mempunyai balita.
Pantauan aktivitas Semeru dari Pos Gunung Sawur masih memperlihatkan tanda-tanda letusan kecil di puncaknya. Semua kegiatan warga radius 1-3 Km dari puncak dinyatakan sebagai zona merah yang sewaktu-waktu terjadi letusan besar susulan harus diungsikan.

Karti, warga yang saat kejadian berada di dalam rumah menceritakan detik-detik Semeru meletus. Kala itu tak terdengar suara Semeru meletus, hanya terlihat tanda alam tiba-tiba langit menghitam. Rintik hujan abu mendadak menghalangi jarak pandang sehingga semua warga kalang kabut.
Banyak warga yang memilih berdiam diri di dalam rumah sambil berselimutkan kain penutup hidung serta mengunci pintu dan jendela. Suami Karti yang berprofesi sebagai penambang pasir hari itu terselamatkan dari banjir lahar dingin karena ia mendapat firasat libur tiga hari untuk selamatan keluarga yang sudah meninggal.

Setelah kejadian letusan Semeru banyak warga yang mengungsi di pos-pos pengungsian, rumah saudara, dan tetangga. Beberapa warga memilih kembali ke rumah dengan catatan jika sewaktu-waktu terjadi letusan mereka harus mengungsi.
Kondisi pengungsian di Sumberwuluh cukup layak bagi warga namun manajemen bantuan masih banyak yang dikeluhkan. Warga terdampak terbagi menjadi 3 zona; daerah dengan kerusakan parah, sedang, dan ringan. Warga yang tinggal di daerah dengan kerusakan ringan merasa terpinggirkan karena jarang mendapatkan bantuan dari pemerintah desa. Meski rumah mereka masih berdiri tegak namun sumber penghidupan sehari-hari sudah mati mengingat sebagian warga adalah penambang pasir.

Oleh karena itu, kegiatan relawan dalam trauma healing ini sangat dibutuhkan warga terutama anak-anak dan ibu-ibu. Letusan Semeru dua bulan lalu masih menyisakan trauma bagi mereka karena datangnya tiba-tiba. Para pengungsi merasa terhibur dengan adanya relawan di tengah keterbatasan fasilitas yang ada.
Selain memberikan hiburan, relawan trauma healing juga menyalurkan donasi dan bantuan kepada para pengungsi yang belum terjamah mengingat jarak tempuh yang harus melewati bukit-bukit. Banyak lansia yang terlihat senang saat relawan mendatangi mereka ke rumah-rumah untuk membagikan makanan yang sudah disiapkan oleh tim dapur umum. Harapan mereka agar distribusi penanganan bencana letusan Semeru dapat merata dan kehidupan ekonomi kembali pulih sehingga mereka dapat bekerja dan beraktivitas sebagaimana sedia kala.
