Si Jago Debat Lulusan Harvard

Dengan balutan batik abu-abu bercorak bunga, Andhyta Firselly Utami, bersama suaminya, Sandyakala Wikan Anantabrata, menyambut ramah tim Warta Fiskal yang berkunjung ke sebuah kafe di bilangan Jakata Pusat. Ketika ditemui, ia tengah sibuk merancang program “Think Policy Bootcamp” (TPB), program khusus eksekutif muda untuk bertukar ide pembangunan bangsa.

Andhyta atau akrab disapa Afu, merupakan inisiator TPB yang sudah berjalan sejak awal April 2019. Bekerja sama dengan Gojek Indonesia besutan Nadiem Makarim, Afu menggarap program 12 minggu ini sebagai bentuk sumbangsih pemikiran analitis dan strategis pembuatan kebijakan terutama dari kalangan millenial.

Putri pertama dari tiga bersaudara pasangan Firdon Syefral dan Lies Bahunta ini memang gemar membuat wadah organisasi anak-anak muda untuk menampung ide-ide mereka. Terinspirasi dari sepak terjang karir ibunya yang menjabat sebagai Kepala Biro Wisata dan Agribisnis Perhutani, Afu aktif mengaktualisasi dirinya sejak duduk di bangku sekolah. “Saya waktu sekolah ikut ekstrakurikuler klub debat bahasa inggris. Kami terbiasa berdiskusi untuk menyuarakan pemikiran masing-masing dalam debat”, kata perempuan berdarah Sunda ini.

Pola pendidikan yang diajarkan keluarganya juga turut mempengaruhi aktivitas teteh kelahiran Cianjur 27 tahun lalu. Salah satunya adalah kebebasan dalam menentukan pilihan hidup. Orang tua Afu memberikan keleluasaan anak-anaknya untuk memilih minat dan bakat yang disukai. Peran orang tua tidak lebih sebagai pendorong semangat dan pengawas aktivitas putra-putrinya.

Perempuan pengagum karya-karya M. Quraish Shihab ini menyelesaikan studi sarjananya di Universitas Indonesia jurusan Hubungan Internasional di tahun 2013. Setelah lulus, ia sempat menjadi Analis Perubahan Iklim dan Isu-Isu Lingkungan di World Resources Institute. Hingga akhirnya di tahun 2016 ia menjadi salah satu awardee Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) di Harvard University di bidang Public Policy, Political, and Economic Development

Ada alasan menarik kenapa ia mengambil jurusan tersebut dalam program masternya. Salah satunya adalah isu lingkungan hidup di Indonesia yang pernah dianalisisnya selama ini seperti kebakaran hutan, tata guna lahan, energi dan lainnya belum sepenuhnya menjadi perhatian pemerintah Indonesia. Isu-isu di atas menjadi terhambat karena pemerintah saat ini masih fokus di sektor pembangunan infrastruktur dan sumber daya manusia.

Padahal menurut perempuan penyuka kucing itu, isu lingkungan bukan sekedar “permasalahan lapangan” saja melainkan isu yang dapat diangkat dalam skala yang lebih luas seperti dalam konteks ekonomi dan kebijakan fiskal. Kebijakan fiskal menurutnya merupakan salah satu instrumen penting untuk memitigasi risiko perubahan iklim di Indonesia.

Oleh karena itu pula, perempuan yang pernah mencicipi program non-degree di Nanyang Technological University itu memilih berkarir di World Bank sepulang dari Amerika Serikat di tahun 2018. Alasannya, World Bank adalah tempat strategis dalam proses belajar untuk mengawinkan dua bidang ketertarikannya, yaitu lingkungan dan ekonomi.

Teteh Neng, begitu panggilan akrab keluarganya, menilai jika pendidikan Indonesia masih perlu dibenahi. Salah satunya, pendidikan di Indonesia perlu mendorong siswa agar tidak segan mengungkapkan ide.

“Kalau menurut saya, pendidikan di negara kita itu para siswanya kurang diberi ruang untuk mengembangkan argumentasi sendiri”, tuturnya.

Ia juga membandingkan bagaimana budaya belajar siswa di dalam dan luar negeri. “Di luar negeri, siswa punya kesadaran untuk belajar terlebih dahulu sebelum masuk ke ruang kelas. Sehingga ketika guru mulai mengajar, siswa aktif berdiskusi terkait pelajaran. Sedangkan di Indonesia, kebalikannya, ruang kelas adalah tempat belajar bukan tempat menyampaikan argumentasi.”

Demikian pula di lingkungan perguruan tinggi, mahasiswa di luar negeri bisa beralih jurusan sesuai dengan peminatan di tengah-tengah tahun studi. Penerapan sistem tersebut dapat meminimalisasi risiko adanya mahasiswa yang merasa salah jurusan.

Perbedaan ketiga adalah adanya “office hours” yang memungkinkan siswa bisa berinteraksi langsung dengan pengajar sehingga memperoleh chemistry dari sistem pembelajaran beserta kendala yang melingkupinya.

Berkaitan dengan pendidikan karakter, dara yang hobi membaca buku ini mewanti-wanti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan agar pendidikan karakter yang diajarkan di sekolah tidak hanya sekadar doktrin. Menurut dia, doktrin bisa berdampak buruk pada sisi kritis siswa.

“Kalau bisa pendekatan (pendidikan karakter) itu bukan doktrin. Tetapi siswa dilatih berpikir kritis sehingga menjadi sebuah karakter. Namun kalau didoktrin harus berkarakter, siswa tidak akan berpikir kritis”, ungkapnya.

Ketika ditanya mengenai salah satu kebijakan fiskal yaitu alokasi 20 persen anggaran pendidikan di APBN, dara penyuka kuliner pecel lele dan tahu sumedang ini terlihat mendukung penuh. Hanya saja penerapannya harus mempertimbangkan aspek kualitas, selain kuantitas.

“Persentase 20 itu sudah dipakai untuk apa saja? Kalau masih dipakai untuk sertifikasi guru dan pembangunan sekolah, esensi pendidikan itu sendiri berarti belum menyentuh sisi kualitas. Yang terpenting adalah bagaimana menciptakan output anak didik yang cerdas dan berkarakter”, ujarnya.

“Dan ini bukan semata-mata tugas dari penyelenggara pendidikan formal”, tambahnya lagi.

Terkait pernyataan terakhir itu, Afu menyampaikan juga bahwa insiatif yang sedang dibangunnya saat ini, TPB, adalah perwujudan dari passion-nya untuk meyelenggarakan pendidikan. Selain menggalang partisipasi dari professional lainnya, ia pribadi melalui wadah ini ingin turut menyebarkan berbagai ilmu, baik intelektual maupun social capital yang diperolehnya selama ini. “..because knowledge is a public goods”, ujarnya. 

Bagi Afu, pendidikan adalah investasi untuk masa depan. Di saat orang lain sibuk menyiapkan investasi dalam bentuk materi seperti emas, saham, properti dan barang lainnya, orang tua Afu giat berinvestasi dalam bentuk pendidikan anak-anaknya.

Kebiasaan orang tuanya itu pun menurun ke Afu sehingga dia sangat berhati-hati dalam menentukan keputusan dan selalu menganalisis baik/buruk pilihan pendidikan yang akan diambil. Sudah seperti teknik decision maker dalam memilih investasi bukan? Mana saja investasi pendidikan yang bakal memberatkan dirinya dan mana pula yang dapat membuat nyaman untuk dijalani.

Afu berpesan kepada anak-anak muda agar tidak berpuas diri dengan pencapaian yang sudah diperoleh. Harus berupaya untuk terus penasaran dan berproses agar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Belajar bisa dimana saja, tidak harus duduk di bangku sekolah. Bahkan kita bisa belajar dari pengalaman orang lain agar kita bisa memilah mana yang lebih banyak manfaatnya. Yang terpenting adalah sebisa mungkin kita bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar dalam situasi apapun. Karena adaptasi seperti ini bisa melatih insting dan indera kepekaan kita sehingga mendorong pribadi semakin berkembang lebih baik.

“Jangan cepat berpuas diri. Kejar cita-cita setinggi-tingginya agar keberadaan kita dapat memberi manfaat buat masyarakat”, pungkas dara berkacamata ini menutup perjumpaan.

redaksi

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Sang Spesialis Kompetisi Karya Tulis

Thu Aug 29 , 2019
Tak ada yang menyangka jika pria berbadan gempal itu sering menjuarai kompetisi karya tulis ekonomi. Pria yang hobi nonton drama korea dan main mobile legend itu baru saja dinobatkan jadi jawara pertama Karya Tulis Lembaga Penjaminan Ekspor Indonesia (LPEI) 2019. Bagus Dwi Aryanto, pegawai PKPN BKF kelahiran Cilacap 28 tahun […]
error: Content is protected !!
FISCAL.ID